Select Language

Featured Articles

Upcoming Events

No events found

Jambi- “ Guru adalah Pahlawan tanpa tanda jasa” begitulah pandangan setiap orang terhadap guru mereka. Sebagaimana yang telah tertuliskan pada lirik lagu ciptaan Sartono berpuluh puluh tahun silam.

Seperti yang telah di lakunan Sekar Arum (51) perempuan yang tinggal di Sengeti, Jambi ini sangat berbesar hati untuk membuka sekolah gratis bagi siswa siswi di kampungnya. Padahal disamping itu ia juga harus mengurusi anak semata wayangnya Taofik (7) yang memiliki masalah pada indra pendengarannya.

Tidak hanya ikhlas membuka sekolah bagi anak anak yang kurang mampu, Sekar Arum juga kerap mengajari para ibu rumah tangga untuk membuat indrustri industri kecil dari barang bekas yang dapat di daur ulang kembeli menjadi barang yang lebih bermanfaat seperti membuat keranjang kecil dari kantong plastik bekas (Kresek).

Saat ditemui Selasa (15/11/2016) seusai ia mengajarkan anak muridnya untuk saling menjaga lingkungan untuk tetap bersih dan juga asri. Raut wajahnya tampak sangat lelah mesikipun ia tetap berusaha untuk tersenyum. Sembari menunggunya melepas penat seusai mengajar putra menghampirinya dengan membawa sebuah balok susun. Meski letih Sekar tetap membantu sang putra untuk menyelesaikan susunan balok itu dengan tepat.

“ hanya ini yang saya dapat lakukan” ujar Sekar dengan suara lemah.

Sekar pun mengenalkan putranya kepada kami semua. Sang putra memiliki masalah pada pendengarannya sejak ia berusian lima tahun. Sekar merupakan orang tua tunggal bagi Taofik. Meski banyak kekurangan dalam hidupnya sekar tetap berbesar hati untuk menjaga putranya, mendidik murid nya serta mengayomi para sahabatnya agar kelak dapat meraih kesuksesannya.

Menjadi seorang orang tua tunggal bukanlah suatu perkara yang mudah. Tak lama suara adzan pun mulai bergema. Ibu Sekar langsung memberi isyarat kepada sang putra untuk segera menunaikan kewajiban kita sebagai umat manusia. Ia tetap berusaha dengan tegar menjalani lika liku kehidupan ini. Menanggung beban-beban yang ia jalani setiap harinya. Ibu Sekar kembali bersiap untuk mengajarkan para ibu rumah tangga agar dapat mengenal tulisan dan dapat membaca dengan baik dan benar. Ia melalukan semua itu agar setiap ibu rumah tangga tidak di bodohi saat mereka bekerja atau sedang melalukan kegiatan lainnya. “Saya, bahagia dapat berbagi pada mereka semua. Saya memang orang susah yang tidak memiliki harta benda tetapi saya percaya apa yang bisa saya berikan ini dapat bermanfaat bagi mereka semua,” ujarnya.

Hanya itu kata-kata yang di ucapkan ibu Sekar. Sedikit namun sangat bermakna. Tidak perlu pangkat dan harta yang berlimpah untuk berbagi kebahagiaan sesama umat manusia.  Beliau pun tidak memandang ras, agama, maupun suku bangsa. Ia tetap membantu setiap orang yang membutuhkan bantuannya.

Walau ia memiliki kekurangan dari segi perekonomian, ibu Sekar tidak pernah patah semangat serta putus harapan untuk membantu sesama. Ia tidak pernah menyia nyiakan kesempatan untuk bekerja. Ia merupakan sosok wanita yang tegar dan tegas yang senantiasa berusaha untuk meraih kesuksesannya.

Walau sebagian warga banyak yang mencacinya karena menilai ibu Sekar sebagai sosok yang munafik dan sok perduli terhadap orang lain. Ia tidak pernah menyerah untuk memajukan masyarakat yang mendukungnya untuk meraih kesuksesan.

Perlahan tapi pasti! Itu merupakan sebuah ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan sosok wanita seperti ibu Sekar Arum. Wanita kelahiran Brebes, Jawa timur ini telah membuktikan kerja kerasnya selama ini untuk membangkitkan semangat para ibu rumah tangga dan anak anak untuk senantiasa menuntut ilmu hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Walaupun ia tidak berasal dari Jambi asli tetapi ibu sekar tetap semangat untuk mewujudkan keinginannya untuk membantu sesama.

Student Journalism