Select Language

Featured Articles

Upcoming Events

No events found

Lelaki setengah baya itu sedang duduk termenung ketika kami datang berkunjung, sambil menerawang atap – atap rumah yang kian lapuk dengan tatapan kosong. Usianya sudah mencapai lebih dari setengah abad. Rambutnya bahkan sudah hampir memutih semua. Namun, masih tersisa raut – raut ketegasan dari wajahnya yang jua kian menua. Hal itu menandakan bahwa dia merupakan seseorang yang terbiasa melakukan pekerjaan berat. Ya, sore itu ia tengah bersantai sejenak untuk melepas kepenatannya setelah seharian bekerja. Bahkan peluhnya masih bercucuran, dibiarkan saja terus mengalir lembut seakan berlomba – lomba untuk menghapus noda lelah diseluruh wajah dan tubuhnya. Akan tetapi hal itu tidak lantas membuat senyumnya menghilang. Dengan wajah yang tetap sumringah, ia menyambut ramah kedatangan kami.

Lelaki itu bernama Kasnawi (51). Sehari – harinya ia bekerja sebagai buruh kayu dengan penghasilan yang tidak seberapa jumlahnya. Namun, kadang ia terpaksa harus melakukan pekerjaan sampingan lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang kian mendesak seiring dengan keadaan ekonomi yang makin memburuk dari waktu ke waktu. Tak pernah sekalipun ia mengeluh saat harus melakukan tugasnya. Memikul kayu ataupun benda – benda berat lainnya dibawah terik matahari yang membakar kulitnya hingga hitam legam. Mengabaikan kekuatan fisiknya yang tidak lagi bisa disebut muda.

Tidak seperti kebanyakan masyarakat disekitarnya, lelaki yang lebih akrab dipanggil Pak Nawi itu tinggal disebuah rumah petak kecil berdinding papan yang katanya lebih tepat disebut ‘gubug’. Ukurannya hanya sekitar 5 x 7 meter saja, dengan atap yang bocor disana – sini, serta pintu dan jendela seadanya. Tentunya tidak banyak perabotan yang terdapat disitu. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa jika cuaca sedang panas maka mereka akan sangat kepanasan, begitu pula jika hujan turun mereka akan kehujanan dan tidak menutup kemungkinan air yang masuk kedalam rumah menggenang di beberapa tempat dan membasahi barang – barang didalamnya. Bahkan lebih parah lagi hujan datang disertai dengan angin yang menerbangkan sebagian atap yang sudah tidak kokoh, sehingga seisi rumah berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri ditengah hujan.

Sebelumnya beberapa orang yang menjabat di perangkat desa memang sempat datang dan mengatakan akan memberikan bantuan. Tapi hal itu hanyalah janji – janji manis belaka, tidak ada yang benar – benar serius membantu. Sehingga Pak Nawi tidak lagi mau mengharapkan itu. Namun baginya tidak jadi masalah, ditempat yang sangat sederhana itu ia, istri, dan keempat anaknya biasa bercengkerama dan bersenda gurau. Saling menggoda, memberi nasihat, membangun obrolan – obrolan ringan, serta merangkai masa depan. Yah, bagi bapak empat anak ini semua keterbatasan yang ia miliki tidak lah menjadi suatu halangan untuk tetap berusaha dengan sekuat mungkin mewujudkan mimpi anak – anaknya. Ia adalah salah satu sosok seorang bapak yang memiliki banyak pengetahuan dan wawasan yang luas serta selalu berpikiran terbuka.

“Orang tidak mampu seperti saya ini memang tidak dapat mewariskan harta apapun untuk anak – anak, namun setidaknya mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak. Belajar untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, sehingga nantinya mereka dapat menjadi orang yang berguna bagi sekitarnya.” Katanya penuh harap. (Erni ; Ratu)

Tekad kuat itulah yang membuatnya mampu menyekolahkan keempat anaknya, bahkan saat ini salah satu anaknya tengah menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Jambi. Menjadi kebanggaan tersendiri baginya yang bahkan tidak memiliki ijazah Sekolah Dasar. Meskipun orang lain beranggapan bahwa cita – citanya mustahil akan terwujud dan tidak sedikit yang mengatakan bahwa ia terlalu nekat. Bagaimana tidak? Untuk mendapatkan sesuap nasi saja sulit baginya. Namun sekali lagi, hal itu malah ia jadikan dorongan untuk berusaha lebih keras. Karena baginya, tidak ada keberhasilan tanpa sebuah pengorbanan.

“Jer basuki mowo beyo. Maksudnya, untuk mencapai sebuah keberhasilan tentu saja diperlukan suatu pengorbanan terlebih dahulu. Berkorban dalam hal apapun itu, jika tidak bisa dengan harta ya dengan tenaga juga kemauan yang kuat seperti saya ini. Kalau hanya berpangku tangan ya tidak bisa. Jadi orang jangan mudah menyerah apalagi kalu tujuannya belum tercapai.” Nasihatnya kala itu.

Ya, itulah Pak Kasnawi. Sosok seorang bapak yang berusaha keras mewujudkan kinginanan anak – anaknya dengan mengharapkan yang terbaik untuk mereka melalui pendidikan. Meski dengan keterbatasan yang menjadi batu kerikil dalam kehidupannya. Rela berkorban, tertatih – tatih dalam penderitaan. Namun semangatnya tidak pernah luntur.

“Saya ini orang susah. Sudah melewati banyak kesulitan, saya tidak ingin anak – anak susah juga nantinya. Biar saya saja. Mereka setidaknya harus hidup lebih baik.” Tutupnya dengan penuh percaya diri.

Student Journalism